Fact Sheet
Scaling up the HIV Response among Most-at Risk Populations (SUM)
Scaling up the HIV Response among Most-at Risk Populations (SUM)
[Program Peningkatan Cakupan Intervensi Efektif, Terpadu dan Berkelanjutan pada Kelompok paling
berisiko tinggi terhadap penularan HIV,
2010 – 2015]
Kerjasama Program SUM dengan Pemerintah dan Masyarakat Medan Dalam Upaya Pengendalian Epidemi HIV
HIV-AIDS di Medan
Kasus HIV dan AIDS di Kota Medan
terus mengalami peningkatan sejak ditemukan pertama kali pada tahun 1992. Sampai
dengan caturwulan pertama 2012 angka kumulatif kasus HIV dan AIDS mencapai 3090
kasus. Faktor risiko penularan terbesar masih melalui hubungan seksual,
khususnya heteroseksual, kemudian penularan melalui penggunaan Narkoba suntik.
Survei Terpadu Biologi dan
Perilaku (STBP) tahun 2011 pada kelompok wanita pekerja seks tidak langsung
(WPSTL), lelaki berisiko tinggi (LBT) dan pengguna Narkoba suntik (Penasun)
menunjukkan prevalensi yang berbeda pada kelompok ini. Pada WPS, prevalensi HIV
sebesar 3,2%. Angka ini memang lebih besar dibanding prevalensi pada kelompok
laki-laki berisiko tinggi (pelaut di Belawan) yaitu 1,3%. Tetapi yang perlu
dikhawatirkan adalah adalah 61,8%
diantara LBT yang menjadi responden STBP berstatus menikah. Hal ini
meningkatkan risiko ibu rumah tangga untuk tertular HIV jika upaya program
pencegahan dan penanggulangan HIV pada kelompok LBT tidak ditangani serius. Ini
sudah terlihat dari data Dinkes Propinsi Sumatera Utara, di mana kasus baru HIV pada ibu rumah tangga sepanjang
tahun 2012 (Januari - April 2012)
mencapai 40 kasus, dan 5 bayi terlahir positif.
Pada kelompok Penasun prevalensi
HIV mengalami penurunan dari
46% (STBP 2007) menjadi 39% pada STBP 2011.
Ketersediaan akses dan kenyamanan dari aspek hukum untuk mengakses jarum steril
berkontribusi dalam penurunan kasus HIV. Walaupun angka prevalensi HIV pada Penasun menunjukkan penurunan namun
resiko penularan masih tetap tinggi karena masih berada pada kisaran 39%. Penularan bisa terjadi
antara sesama Penasun
maupun antara Penasun
dengan pasangan seksualnya. Faktor risiko penularan lainnya adalah
homoseksual dan transfusi darah. Mempertimbangkan perkembangan program serta situasi epidemi HIV saat ini maka upaya untuk mempercepat peningkatan cakupan intervensi yang efektif dan terintegrasi pada kelompok risiko tinggi secara signifikan sangat dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, sangat penting untuk memastikan para pengelola dan pelaksana program memiliki panduan serta pengetahuan dan kemampuan yang memadai untuk dapat melaksanakan intervensi secara efektif.
Scaling up the HIV Response among Most-at Risk Populations (SUM)
Program SUM (Scaling Up the HIV Response among Most-at-risk Populations) adalah bentuk dukungan dan kerjasama pemerintah Indonesia dan Amerika dalam upaya penanggulangan HIV di Indonesia yang berjalan mulai tahun 2010 sampai 2015.
Kerjasama pemerintah Indonesia dan Amerika sudah dimulai sejak tahun 1993 sampai tahun 2000 dengan HIV/AIDS Prevention Project (HAPP) sebagai elemen terbesar dari dukungan, dilanjutkan dengan program ASA I yang berlangsung pada tahun 2000–2005 dan Program ASA II pada tahun 2005–2010 yang dikelola oleh Family Health International (FHI) serta Health Policy Initiative (HPI) pada tahun 2006-2009 yang dikelola oleh Futures Group.
Program SUM dirancang untuk meningkatkan cakupan intervensi efektif, komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan dengan menyediakan dukungan kepada instansi pemerintah dan organisasi masyarakat sipil (OMS) yang bekerja dalam program pengendalian HIV/AIDS. United States Agency for International Development (USAID) Indonesia mempercayakan pengelolaan dan pelaksanaan program kepada 2 kontraktor utama, yaitu Family Health International (FHI) dan Training Resources Group (TRG) bersama dengan Research Triangle Institute International (RTI International), Burnet Institute (BI) dan AIDS Project Management Group (APMG).
Mitra SUM
Program SUM dilaksanakan bekerja sama dan berkoordinasi dengan Komisi Penanggulangan
AIDS (KPA) dan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(Ditjen PP&PL) Kementerian Kesehatan dan kementrian terkait, lembaga
swadaya masyarakat penerima bantuan Global Funds serta mitra pembangunan
internasional lainnya. Di tingkat
propinsi dan kota, Program SUM erat bekerja sama dengan KPA, Dinas Kesehatan,
dinas terkait dan organisasi masyarakat sipil (OMS) lainnya. Secara khusus
Program SUM mendukung 3 OMS yang menjalankan program pencegahan dan
penanggulangan HIV-AIDS secara komprehensif pada kelompok paling berisiko
tinggi di Kota Medan, yaitu Human Health Organization (H2O) pada WPS dan LBT,
Gerakan Sehat Masyarakat (GSM) pada kelompok Lelaki seks Lelaki (LSL) dan
waria, serta Yayasan Galatea (YG) yang melakukan intervensi pada kelompok
pengguna Narkoba suntik. Apa Saja Yang Program SUM Lakukan?
Dalam pelaksanaanya, Program SUM mulai dengan tahap persiapan berupa penentuan lokasi (site) intervensi dan proses penjajakan kesiapan komunitas, dilanjutkan dengan pengembangan manual/panduan pelaksanaan intervensi serta penyediaan paket dukungan yang dibutuhkan kepada mitra kerja (OMS dan instansi pemerintah) untuk dapat menjalankan intervensi yang efektif, komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan pada kelompok risiko tinggi/most-at-risk populations (MARPs).
Di Sumatera Utara, tahap persiapan
berupa penentuan lokasi sudah dilakukan dalam workshop pada bulan Februari
2012, dilanjutkan dengan penjajakan kesiapan komunitas pada bulan Maret 2012.
Hasil penjajakan komunitas juga telah pula didesiminasikan di depan pemangku
kepentingan di tingkat kabupaten/kota dan propinsi. Hasilnya menunjukkan
kesiapan Kota Medan untuk diintervensi. Hasil inilah yang menjadi dasar dalam
mengembangkan intervensi yang efektif, komprehensif, terintegrasi dan
berkelanjutan pada 5 kelompok populasi yang paling berisiko (WPS, LBT, LSL,
waria dan Penasun) yang akan dijalankan oleh 3 OMS mitra SUM.
Dukungan Apa Yang Program SUM Berikan?
Program SUM akan berfokus pada:
1.
Peningkatan kapasitas teknis dan kinerja organisasi yang
dibutuhkan untuk menjalankan intervensi efektif, komprehensif, terintegrasi dan
berkelanjutan yang dapat berdampak pada peningkatan pemanfaatan layanan dan
perubahan perilaku kelompok risiko tinggi secara signifikan dan terukur.
2.
Peningkatan kapasitas pengelolaan informasi strategis untuk merespon permasalahan
HIV/AIDS pada kelompok risiko tinggi. Salah satu bentuk bantuan untuk aspek
informasi strategis ini adalah Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku serta
Monitoring dan Evaluasi.
3.
Menyediakan dan memantau dukungan dana (small grants) yang akan
diberikan kepada organisasi masyarakat sipil/LSM untuk mendorong perluasan
intervensi efektif, terintegrasi dan berkelanjutan pada kelompok risiko tinggi
di wilayah dimana terdapat populasi yang paling berisiko dalam jumlah besar dan
tingkat penularan HIV yang tinggi.
Di Mana SUM Bekerja?
Untuk dapat memberikan dampak yang
signifikan, Program SUM bekerja di sejumlah kota dan kabupaten yang berada di 6
propinsi prioritas dengan populasi kelompok paling berisiko tertinggi. Propinsi
prioritas tersebut adalah: DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Papua dan
Papua Barat. Di Sumatera Utara, Kota Medan menjadi kota prioritas pertama
dijalankannya program.
Perwakilan
Program SUM di Medan
Jln.
Sei Batang Serangan No. 147 Medan, 20154
Telp/fax.
62 61 4531395